-
Be the guardian of everything that enters your mind – Know that
everything you see hear and feel goes directly into your subconscious
mind and you must manage the information you allow in. Eliminate
negative information as much as you can by limiting the amount of news
you read, stop seeing violent movies, read only positive information.
Keep the positive information flowing into your mind and your
subconscious will naturally become more positive. -
Set aside time for you – Everyone needs time to reflect.
Whether you pray, meditate, practice yoga, or just read positive
information. Set aside an hour each day for yourself. Your subconscious
mind needs to know just how important you are and nothing shows this
importance than having time for yourself. Many believe there is not a
free hour in the day for themselves. Whether you have to wake an hour
early or go to bed an hour later having an hour of peace is an important
way to clear your mind and open yourself to the possibilities your
subconscious mind can offer. -
Speak kindly to yourself – When you look in the mirror do you
like what you see? Do you compliment yourself on your most outstanding
attributes? Stop all negative talk to yourself immediately. You are a
perfect creation of God and you have beautiful traits that need
recognizing. Remind yourself of your great eyes or your winning
smile-whatever sets you apart from everyone else in a positive way. Your
subconscious will thank you.
Sumber: Muslim | No. Hadist: 1146 | Kitab: Shalatnya musafir dan penjelasan tentang qashar
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya katanya; Aku pernah menyetorkan hapalan kepada Malik dari Abu Zubair dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat zhuhur dan ashar semuanya, dan antara Maghrib dan Isya’ semuanya bukan karena ketakutan dan tidak pula ketika safar.”
Sumber: Muslim | No. Hadist: 1147 | Kitab: Shalatnya musafir dan penjelasan tentang qashar
و حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ وَعَوْنُ بْنُ سَلَّامٍ جَمِيعًا عَنْ زُهَيْرٍ قَالَ ابْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ قَالَ أَبُو الزُّبَيْرِ فَسَأَلْتُ سَعِيدًا لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَمَا سَأَلْتَنِي فَقَالَ أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ
Dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus dan ‘Aun bin Salam semuanya dari Zuhair. Ibnu Yunus mengatakan; telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Abu Zubair dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus di Madinah bukan karena takut dan bukan pula karena safar.” Abu Zubair mengatakan; “Aku bertanya kepada Sa’id; “Mengapa beliau melakukan hal itu? Dia menjawab; Aku bertanya kepada Ibnu Abbas sebagaimana kamu bertanya kepadaku, lalu dia menjawab; “Beliau ingin supaya tidak merepotkan (memberatkan) seorangpun dari umatnya.”
SMA Training yang hadir di Amuntai untuk yang pertama kalinya ini, mendapatkan respons positif yang begitu besar dari berbagai kalangan. Jumlah peserta yang mendaftarkan diri mencapai 30 anak lebih itu membuat suasana ruang hotel terlihat begitu padat. Bayangkan saja ruang seminar hotel dengan ukuran 5×15 itu harus diisi dengan lebih dari 100 orang peserta (termasuk kedua orang tua dan kerabat anak). Antusias masyarakat begitu luar biasa. Hampir seluruh orang tua peserta bersedia berdesak-desakan mengikuti training dari sesi awal hingga akhir. Karena faktor ruangan yang tidak mencukupi inilah kenapa EO Amuntai membatasi Peserta. Begitu antusiasnya, selain daftar tunggu yang tersedia, banyak orang tua peserta yang menanyakan waktu training untuk Amuntai berikutnya.
“Dengan materi training, terutama materi parentingnya yang sangat berguna bagi orang tua untuk memprogram kembali pikiran anak yang sudah teracuni oleh lingkungan yang kurang kondusif, membuat SMA Training sangat ditunggu kehadirannya di Amuntai. Saya berani menjadi EO karena Lanjutkan membaca
SURABAYA—(30/4 – 1/5) Maraknya fenomena cuci otak yang digembongi oleh gerakan NII, kian meresahkan masyarakat. Terlebih doktrin-doktrin yang ditanamkan kepada para “korbannya” bertentangan dengan nilai moral agama yaitu menghalalkan berbagai cara seperti pencurian, mengkafirkan orang, menteror anggota yang keluar dengan ancaman pembunuhan, dsb. Fenomena itu pun membuat berbagai lembaga seperti sekolah atau pesantren termasuk instansi pemerintah lebih berjaga-jaga untuk mengantisipasi masuknya gerakan seperti itu ke dalam lingkungannya dan bertindak secara preventif dengan meminta keterlibatan keluarga untuk ikut mengantisipasinya secara intens.
Civilized Learning Forum (CLF) merasa prihatin akan fenomena ini. Sangat disayangkan bila itu terjadi pada saudara, anak, atau orang- orang dekat kita. Tetapi, kalau mau jujur usaha pencegahan terhadap praktek cuci otak seperti itu, insya Allah sudah lama dilakukan oleh CLF dalam dalam bentuk SMA Training. Dalam sesi aktifasi pikiran bawah sadar, anak dibekali dengan filter ketauhidan dan manusia unggul, yang merupakan penyaring informasi dari pikiran sadar menuju pikiran bawah sadar. Sehingga, informasi apapun yang masuk masuk ke dalam pikiran bawah sadar sudah tersaring oleh filter tersebut. Hal ini sesuai dengan sifat pikiran bawah sadar, yaitu pikiran bawah sadar sesuai dengan awal aktifasinya, apabila ia diaktifkan dengan nilai-nilai moral agama maka secara otomatis ia akan menolak nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai moral agama begitu juga sebaliknya bila ia diaktifkan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral agama maka secara otomatis ia akan menolak nilai-nilai moral agama.
Namun, jika kita menelaah sedikit saja, konsep cuci otak ini sebenarnya suatu hal yang tidak perlu dikhawatirkan karena sudah lumrah di dalam kehidupan keseharian. Semua model pendidikan bisa dianggap model cuci otak karena pendidikan diorientasikan untuk tujuan perubahan sikap peserta didik yang tentunya dimulai dari bagaimana lembaga tersebut mengubah mindset mereka dengan memanfaatkan dan memaksimalkan pikiran sadar dan pikiran bawah sadar mereka. Ini berarti bahwa dimana-mana dengan mudah biasa kita temukan model praktek cuci otak (brainwash), yakni di sekolah-sekolah, organisasi, majelis ta’lim, tempat kerja, dan utamanya di rumah kita sendiri. Cuci berarti mengusahakan suatu perubahan dari yang kotor menjadi bersih. Sedangkan, cuci otak berarti mencuci otak dari pikiran-pikiran yang kotor menjadi pikiran yang dianggap bersih oleh kelompok-kelompok tertentu. Definisi sederhana ini memberikan gambaran bahwa istilah cuci otak mengindikasikan dua sisi nilai yang berbeda, positif dan negatif. Semuanya bergantung pada sudut pandang mana kita melihatnya. Kagi kelompok-kelompok yang memiliki doktrin yang berbeda dengan kita, apa yang mereka doktrinkan kepada anggota-anggota yang direkrut dianggap baik dan benar, sementara bagi kita hal tersebut dianggap menyesatkan. Perbedaan sudutpandang inilah yang memberi kesan adanya istilah cuci otak yang dianggap sangat mengerikan itu.
Sudut pandang kita, tentu saja berbeda dengan mereka yang doktrinnya kita anggap sangat membahayakan. Untuk itu kita harus bisa memastikan anak kita mampu menghindar dari program cuci otak yang menyesatkan, yang tidak sesuai dengan pandangan kita. Dominannya pikiran bawah sadar (subconscious mind) bisa dimanfaatkan untuk memprogram ulang pikiran anak-anak kita. Dengan optimalnya pikiran bawah sadar kita dan anak-anak kita dan kita mampu melakukan komunikasi batin (bawah sadar) kita bisa mengetahui segalanya bisa terkendali. Sebelum otak anak kita dicuci orang lain, seyogyanya kitalah yang harus mencucinya dan memberinya filter anak-anak kita. Saudaraku akan memperoleh kemampuan mengarahkan dan mengendalikan anak-anak kita dengan memodel dan memprogram pikiran anak-anak kita di SMA Training.
SMA Training insya Allah akan membantu memantaskan diri kita untuk menjadi orang tua yang mampu mendidik dan menggiring anak-anak kita menjadi manusia unggul–insan kamil, manusia sempurna yang diridhoi Allah. Anak kita adalah amanah Allah, dititipkan dalam keadaan fitrah dengan berbagai keunggulannya tentunya harus dikembalikan dalam keadaan yang sama dengan penambahan keunggulan-keunggulan yang diharapkan. Begitu Ahmad Amin. M.Pd. menuturkan dalam pembukaan SMA Training di Empire Palace pada hari Sabtu 30 April 2011.
LAMONGAN-Segala informasi yang datang dari lingkungan sekitar anak, baik melalui media komunikasi, seperti TV,majalah, dan internet setiap hari akan mengisi pikiran anak, yang sebagian besar hanyal informasi negatif. Bagaiamana jika setiap hari informasi negatif ini saja yang terus masuk ke dalam diri anak? Menurut penelitian, bahwa input informasi yang diterima anak seperti ini dalam satu hari bisa mencapai 80 % (Bobby De Porter). Inilah yang terjadi, kenapa dengan pesatnya teknologi informasi justru banyak anak yang malah bermasalah.
Di sisi lain maraknya fenomena pelatihan aktifasi otak (otak tengah), yang ternyata tanpa disadari juga diorientasikan untuk mendominankan pikiran bawah sadar dan tanpa memberikan filter-filter positif atas sepengetahuan orang tuan sangat berakibat buruk terhadap tumbuh kembang anak dalam pesatnya perkembangan teknologi informasi seperti saat ini. Hal ini terkait dengan sifat pikiran bawah sadar yang selalu searah dengan awal aktifasinya. Artinya, jika aktifasi pikiran tersebut berisikan filter-filter positif maka pikiran bawah sadar akan mampu mengendapkan informasi positif dan menolak segala informasi negatif begitu juga sebaliknya. Apalagi jika diaktifkan tanpa filter sama sekali ini lebih membahayakan. Karena anak dalam masa kritikal factor seperti ini akan memilih nilai-nilai yang mereka sendiri anggap benar. Atau seandainya pun ada pemberian filter, orang tua tidak tahu filter seperti apa yang ditanamkan. Pemberian filter seperti ini juga sangat tidak menguntungkan. Kalau ternyata nilai yang dipilih anak untuk dijadikan filter justru yang negatif malah akan membuat pikiran bawah sadar akan menolak atau menganggap tidak benar semua informasi positif yang masuk. Bukankah sangat ironis kalau ternyata aktifasi otak yang kita harapkan justru berlawanan arah?
CLF sebagai forum kajian model pembelajaran abad 21 yang sangat peduli akan kemajuan pendidikan di Indonesia, berusaha keras untuk menjadikan SMA Training sebagai model pelatihan alternatif yang mampu memberikan bekal pada orang tua di dalam menggiring dan memodel anaknya menjadi seperti yang mereka harapkan dengan filter ketauhidan dan manusia unggul. Selama aktifasi kegigihan Nabi Ibrahim mempertahankan ketauhidan serta kesempurnaan Rasulullah Muhammad SAW. sebagai pemimpin, dalam hal ini khalifah Allah, diorientasikan untuk menjadikan anak sebagai insan kamil (manusia unggul) baik secara spiritual, emosional dan intelektual. (dikutip dari pengantar SMA Parenting oleh Ahmad Amin M. Pd. sebagai trainer inti) Iw’11
BANJARMASIN-(9-10/4) Kecerdasan majemuk yang biasa diistilahkan dengan Multiple Intelegence kerap kali menjadi pembahasan yang cukup hangat dalam dunia pendidikan. Namun, dalam aplikasinya belum seperti yang diharapkan. Masih banyak kesalahan-kesalahan yang mesti diperbaiki dan disempurnakan. Terkait dengan UAN 2011 ini rasanya benar-benar Multiple Intelegece anak sudah ”dibunuh”. UAN sungguh merampas kepercayaan diri anak. Anak yang tidak lulus ujian akhir tidak bisa mengakhiri proses pendidikan di jenjang yang dia jalani, dan harus mengulang kembali untuk memantapkan penguasaan materi inti yang diujiankan pada tahun berikutnya. Jadi kecerdasan dalam konteks ini hanya berkisar pada materi inti yang diujikan. Ketidaklulusan membuat anak memiliki rasa ketakutan yang berlebihan, hilangnya percaya diri, tentu saja yang utama adalah perasaan malu yang harus ditanggungnya. Orang tua anak serta pihak sekolah pun juga akan merasa malu. ini berarti bahwa kegagalan dalam UAN telah menjatuhkan nama baik anak, orang tua, dan juga sekolah tentunya.
Bersumber dari ketakutan akan terjadinya hal tersebut, banyak pihak sekolah dan juga orang tua berusaha mengatasinya dengan cara-cara yang kurang etis demi kelulusan sang anak. Dan tentu saja anak yang bersangkutan akan mengusahakannya lebih intens lagi dengan melakukan kecurangan-kecurangan yang bisa saja dilegalkan oleh pihak sekolah, seperti saling mencontek sesama teman, meminta jawaban lewat sms, ngerpek dan sebagainya. Lebih tragis lagi, beritanya 10 orang anak dalam 1 kelas nekad membeli jawaban soal UAN dengan harga 45 juta sehingga 3 mahasiswa yang menjadi joki UAN dikeluarkan dari kampusnya, kepala sekolah dan beberapa guru masuk penjara karena membantu memberi jawaban UAN kepada anak. Itulah dampak buruknya jika sistem pendidikan memaksa anak untuk memiliki kecerdasan yang sama.
Kecerdasan yang ditanamkan di sekolah sekarang ini tidak lebih dari sebuah penyaramataan kecerdasan, hanya berkisar pada kecerdasan intelektual semata. Sementara kecerdasan emosional dan spritual cenderung terabaikan. Civilized Learning Forum pelalui SMA Trainingnya berupaya memberikan pemahaman khususnya kepada orang tua dan praktisi pendidikan tentang pentingnya memahami konsep multiple intlegence ini. Reprogramming pikiran bawah sadar ana untuk mengangangkat kecerdasan yang masih termarginalkan pada diri anak bisa dijadikan jalan untuk menggiring anak pada kepercayaan akan keunggulan diri sehingga mampu memaksimalkan kecerdasan emosional, spritual dan juga intelektualnya. Untuk meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual anak, SMA dalam aktifasinya menanamkan filter ketauhidan dan manusia unggul, yang nantinya diharapkan bisa menyadari keberadaannya sebagai anak yang mampu mengkontribusikan dirinya dalam suatu sistem rahmatan lil ‘alamin. Model-model keunggulan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail, dan Nabi Muhammad SAW dimasukkan ke dalam SMA training untuk memperjelas filter ketauhidan yang seharusnya dimiliki oleh seorang anak. Adapun untuk mengotimalkan kecerdasan intelektual, SMA membekali aplikasi “learn how to learn” yaitu teknik menghafal menggunakan memory system yang sangat berguna untuk melejitkan ingatan jangka panjang (long term memory) anak.
Kita harus mengambil jalan terbaik sebagai solusi untuk mencegah kebijakan-kebijakan yang kurang berpihak pada anak. Akan lebih baik kalau masyarakat dan kalangan akademisi lebih intens lagi mengkritisi kebijakan pemerintah yang kurang luwes seperti itu.
GRESIK–Setelah mengadakan training SMA di Surabaya pada tanggal 26-27 Maret 2011, untuk pertama kalinya Tim CLF mendapat undangan Preview ke Depag, Gresik. Tepatnya, 29 Maret 2011, Tim CLF memenuhi undangan tersebut. Imam Hanafi, sebagai orang tua alumni SMA Training yang saat ini menjabat sebagai kepala penyuluhan di Depag Gresik mengungkapkan kegembiraannya sewaktu membuka acara Preview SMA Training itu, “Setelah saya mengikutkan anak saya ke SMA Training, saya merasakan manfaatnya yang luarbiasa, saya sudah tahu cara memprogram pikiran bawah sadar anak dan memantapkan diri saya meniti hidup. Sehingga, dengan dasar inilah, saya pun berani mengundang TIM CLF memberikan Preview atau pencerahan ke Depag, Gresik”.
Banyak yang bertanya, benarkah konsep pikiran bawah sadar sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah? Benarkah SMA Training juga menggunakan konsep acclerated learning sebagai model pembelajaran abad 21? Ahmad Amin, M.Pd, sebagai pendiri CLF dan sebagai Trainer utama dalam SMA Training, yang juga putra asli Gresik, menjelaskannya dengan santai tapi begitu memuaskan. Hal itu terlihat dari expresi wajah mereka, makin banyaknya pertanyaan-pertanyaan berbobot yang dilontarkan, serta seriusnya peserta megikuti penjelasan dari sesi yang satu ke sesi yang lain.
Sebelum menerima wahyu dari Allah SWT, Rosulullah Muhammad SAW sering masuk gua. Dan yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Rasululah masuk gua? Apa di balik itu semua? Apakah Rasulullah menemui Iblis, seperti yang dituduhkan orang-orang barat (kafir)? Tentu saja kita akan menjawab tidak. Suatu pertanyaan sederhana “Kenapa sih orang-orang hebat, seperti Muhammad, kok keluarnya dari Gua?” telah menggiring Goodwin untuk membuat tesis yang mengarah pada penelitian tentang gua. Setelah diteliti ternyata artsitektur gua itu dengan berbagai ornamennya memiliki sejumlah manfaat yang luar biasa. Arsitektur gua memiliki teknologi yang sangat memungkinkan manusia untuk menjadi unggul. The Power of Crystal dengan energi ionicnya yang tidak bisa dipengaruhi oleh medan magnet, The Power of Aromatherapy, The Power of Darkness, dan Brainwave adalah beberapa manfaat yang bisa ditemukan di gua. Dari semuanya, Brainwave atau gelombang otak akhirnya menjadi suatu teknologi yang diadop dari gua yang dari konsepnya diketahui mampu membuat seseorang seperti Nabi Muhammad SAW dapat memiliki autosugesti diri yang kuat yang bisa digunakan untuk mengeksplorasi seluruh kemampuan pikiran bawah sadarnya hingga Rasulullah medapatkan Wahyu pertamanya.
Dalam konsepnya Brainwave tidak bisa didengar, tetapi brainwave bisa dimanipulasi agar bisa diperoleh oleh telinga manusia yaitu dengan membuat selisih frekwensi antara suara yang masuk ke telinga sebelah kanan dan ke telinga sebelah kiri. Dengan menggunakan software khusus di era teknologi komputer sekarang ini hal tersebut sangat mudah dilakukan. Namun demikian untuk memanipulasi suara yang masuk ke telinga sehingga memperoleh brainwave juga bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Dengan memanfaatkan daun telinga, misalnya, seseorang bisa mengeleng-gelengkan kepalanya sambil mendengarkan suara dari sumber suara dibelakangnya. Suara yang masuk ke telinga kiri akan berbeda frekuensinya dengan suara yang masuk ke telinga kanan, hal ini terjadi karena frekuensi yang masuk telinga akan secara bergantian mengalami penghambatan oleh daun telinga. Ketika seseorang menggelengkan kepala ke kanan maka frekuensi suara yang masuk ke telinga kanan karena di hambat oleh daun telinga akan mengalami penghambatan sedemikian rupa yang berbeda dengan telinga sebelah kiri yang menerima suara dengan frekwensi normal (tidak mengalami penghambata) begitu juga sebaliknya. Terjadinya selisih frequensi inilah yang disebut dengan brainwave. Dan teknik menggelengkan kepala ini sudah lama dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu dengan menanamkan filter ketauhidan “Laa ilaaha illallah”, yang lebih dikenal dengan gerakan tahlil. Tapi sayang gerakan dengan konsep pengaktifan pikiran bawah sadar ini yang mampu menghasilkan brainwave ini, sekarang telah dipatenkan oleh Ich Lee dari Korea. Kelihatannya sederhana, dan bahkan banyak yang menilainya dengan suatih tindakan bid’ah dhalalah, tapi gerakan tahlil ternyata telah mampu menunjukkan kedahsyatannya sebagai model tarbiah ulama-ulama terdahulu, terutama ulama dari kalangan ahlulbayt. Dan ini adalah aplikasi/pemamfaatan dari teknologi arsitektur gua yang mampu memberikan selisih frekwesi suara yang masuk. Gambarannya, suara yang masuk ke dalam gua dan suara yang dipantulkan oleh dinding gua akan berbeda frekwensinya karena suara yang dipantulkan akan mengalami penghambatan frekwensi.
Dalam Islam pemanfaatan brainwave ini sungguh luar biasa. Menurut penelitian, brainwave juga bisa diperoleh antara pukul antara 1-4 dini hari. Itulah kenapa Rasulullah menganjurkan kita agar menjadi manusia unggul dengan mengerjakan shalat malam. Di Monroe Institute Amerika seseorang perlu berlatih melakukan bangun malam selama 40 hari secara konsisten untuk memperoleh penguatan brainwave (brainwave entrainment).
Tidak hanya melalui shalat malam, teknologi brainwave juga bisa diperoleh dari arsitektur masjid pada awal-awal peradaban Islam yang mencontoh arsitektur gua. Tiga atau enam shaf pertama pada sebuah masjid biasanya dibatasi oleh dinding dengan banyak pintu berbentuk arch tidak berdaun pintu. Ini dimaksudkan agar suara yang masuk melalui dinding tersebut akan terpantulkan oleh dinding belakang masjid dan suara yang masuk dan keluar terakumulasi di shaf-shaf awal tersebut dan menjadi brainwave. Dengan demikian, orang yang berada di shaf tersebut akan dapat merasakan khusyu, ketenangan yang luar biasa. Tapi sayang, arsitektur masjid seperti itu sudah sangat jarang ditemukan pada zaman sekarang. Ini berarti, secara tidak sadar umat Islam telah meninggalkan satu warisan besar dari peradabannya sendiri.
Yang unik dari undangan Depag Gresik ini adalah setelah mengikuti preview, banyak peserta yang siap menyebarkan konsep SMA Training, dan mendukung pelaksanaan training kapanpun diadakan di Gresik dan banyak juga yang siap memasarkan SMA Training ini. “SMA layak menjadi sebuah pelatihan revolusioner dengan mengangkat nilai-nilai peradaban Islam di Indonesia untuk membantu menciptakan manusia-manusia unggul.” ujar Bapak Badri, MA. ketika memberikan kesan terhadap apa yang disampaikan trainer utama SMA Training, Bapak Ahmad Amin M.Pd. iw’11
Sorak keramaian 60 peserta mengisi ruangan Training SMA di Hotel Empire Palace Surabaya 26-27 Maret 2001. Para peserta sangat antusias dengan materi-materi training yang berfariasi walaupun mereka harus mengikutinya dua hari mulai pukul 08.00 hingga 17.30-an. Mereka mengikuti permainan-permainan seru, seperti mengglindingkan bola di atas kertas, estafet karet melalui sedotan minuman, dan lainnya. Wajah-wajah mereka nampak ceria dihiasi senyum indah. Apa lagi setelah proses aktifasi senyum dan EFT, mereka tampak jauh lebih gembira. Aktifasi senyum dalam SMA Training diorientasikan untuk menjadikan peserta bisa menguatkan dan bahkan merecovery mental anak yang sempat menurun sehingga mereka mampu mengendalikan keadaan emosi sewaktu menghadapi berbagai masalah, seperti takut gelap, marah, sedih, jengkel, dan sebagainya yang mereka alami dalam pergaulan kesehariannya, baik dalam lingkungan pertemanan, keluarga, maupun di sekolah. Pada masa-masa klimaks aktifasi senyum yang diiringi dengan brainwave untuk longterm memory dan recovery mental, anchoring ditanamkan pada diri anak bersam-sama orang tua. Anchoring ini dimaksudkan untuk bisa mengembalikan pikiran anak dan orang tua pada kondisi emosi bahagia dan siap mental yang ditanamkan saat aktifasi. Anchoring dalam hal ini bisa menjadi cara terbaik untuk mengatasi menurunnya mental anak.
Dalam SMA Training ini, EFT, yang dijadikan salah satu model terapi, banyak berperan besar untuk menghilangkan masalah-masalah psikologis dan fisik yang disebabkan oleh emosi dan self image negatif anak. Jika emosi dan self-image negatif ini dibiarkan terus menerus mengendap dalam pikiran bawah sadar anak akan menimbulkan hambatan psikologis, yang tentu saja akan menimbulkan hambatan pada kecerdasan anak. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan menguasai keterampilan menerapi dengan EFT ini. Anak dan orang tua akan mampu mengatasi berbagai masalah mental dan penyakit fisik. Untuk masalah fobia contohnya, insya Allah orang tua akan dengan mudah mengatasinya. Anak yang mengalami phobia kegelapan yang biasanya disebabkan oleh image hantu yang mereka dapatkan dari tayangan TV, atau dari mendengar obrolan-obrolan orang-orang di sekitarnya, dalam waktu singkat bisa diatasi. Anak yang sejak kecil tidak mau makan nasi juga demikian. Atau contoh yang paling banyak terjadi, yaitu malas. Kemalasan-kemalasan muncul karena image yang ditanamkan oleh lingkungan sekitar, terutama orang tua dan guru-guru yang tanpa sadar telah menanamkan image malas ke dalam diri anak. Mengingat mekanisme kerja pikiran manusia berdasarkan image, semua input yang masuk ditangkapnya berdasarkan image yang dominan. Ungkapan “Jangan malas, ya Nak!” seringkali dimaksudkan untuk menasehati anak supaya rajin, tapi yang ditangkap oleh pikiran anak justru image malas. Makin sering ungkapan tersebut dilontarkan, makin kuat pula image malas tertanam ke dalam pikiran bawah sadar anak, Ini berarti bahwa tanpa sadar orang tua telah mengendapkan perasaan malas pada diri anak,. Dan yang terjadi adalah anak benar-benar menjadi pemalas. Dengan EFT hal seperti ini pun bisa di atasi. Bahkan EFT bisa digunakan untuk menerapi penyakit fisik yang akut.
Negative Self Image yang terbentuk oleh anak sejak awal perkembangannya bisa menjadi kendala perkembangan anak. Selain aktifasi senyum dan EFT, sebenarnya banyak hal yang sebenarnya mampu me-recovery mental anak. Di sini sangat dibutuhkan perananan orang tua yang lebih intens sehingga orang tua mampu menjadi pengarah, bahkan menjadi trapist bagi anak.

Amin menjelaskan perbedaan mendasar antara SMA Training dan Aktifasi Otak Tengah yang saat ini lagi dipermasalahkan.
Gonjang-ganjing Aktivasi Otak Tengah yang akhir-akhir ini banyak memenuhi media massa Indonesia bahkan juga dunia maya, ternyata dalam Dialog Khusus SMA Training di TV9 Surabaya tanggal 23 Maret 2011 yang lalu sempat menghiasi talkshow yang ditayangkan secara live tersebut. Dalam talkshow SMA Training kelima kalinya di TV9 ini, Dinda, yang kebetulan pertama kali sebagai host, tiba-tiba saja mengangkat tema seputar bahaya aktivasi otak tengah dengan menyitir buku “Dahsyatnya Bahaya Aktivasi Otak Tengah – Menguak Kontroversi Aktivasi Otak Tengah & Hipnosis Massal secara Investigatif” oleh Praktisi Hipnoterapi dan Pakar Life Regression, Richard Claproth, Ph.D. Sebagai seorang pembawa acara TV yang memilik wawasan luas, nampaknya Dinda tidak mau membuang kesempatan emas di dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang bagaimana membimbing dan mengarahkan anak dengan konsep pendidikan yang benar. “Tema ini memang harus diangkat karena setidaknya kita bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat untuk lebih hati-hati mengikutkan putra-putrinya dalam suatu pelatihan. Dan yang kedua tentunya agar masyarakat mengetahui perbedaan antara pelatihan Aktivasi Otak Tengah dengan Pelatihan Subconscious Mind Activation (SMA).” Tutur Dinda setelah membawa acara Talkshow tersebut.
Sementara Ahmad Amin, M.Pd., nara sumber talkshow, ketika ditanya tentang perbedaan antara aktifasi otak tengah dengan SMA Training, dengan berseloroh mengatakan, “Justru kehadiran SMA Training ini telah menunjukkan perbedaan itu sendiri. Insya Allah SMA Training bisa dipertanggungjawabkan.”
Memang kalau kita mau melirik sedikit saja ke dalam buku Richard tentang bahaya aktifasi otak tengah, dan kita bandingkan dengan keterangan Amin sebagai nara sumber, kita akan menemukan keganjilan-keganjilan yang cukup signifikan. Di antaranya adalah:
Pertama, orang tua tidak diperkenankan masuk ke dalam ruangan training selama aktivasi otak tengah. Hal ini yang justru membuat orang tua tidak bisa mengetahui program apa yang diinstallkan sebenarnya kepada anaknya. Sementara di dalam Training SMA, orang tua justru diperkenankan mengikuti pelatihan secara penuh (kalau ada waktu untuk mengikutinya) tapi untuk sesi SMA Parenting, mereka diwajibkan hadir atau mengikuti pada hari pertama dan kedua. Orang tua peserta dibekali cara-cara menerapi dan melakukan reprogramming (memprogram ulang) pikiran anak. Orang tua diharapkan mampu menerapkan konsep-konsep pendidikan terbaik kepada anaknya pasca training.
Kedua, program aktivasi otak tengah tidak menjamin bahwa semua anak akan berhasil. Jika tidak berhasil, dikatakan bahwa anak itu tidak mempunyai bakat dan oleh karena itu tidak bisa jenius. Ini merupakan kesimpulan yang salah kaprah. Berdasarkan konsep Multiple intlegence setiap anak memiliki kecerdasan
masing-masing yang di antara setiap kecerdasannya bisa lebih dominan di atara satu dengan yang lainnya. Seperti pada umumnya, anak yang mahir matematika (kecerdasan logik matematik), belum tentu mahir bahasa Inggris (kecerdasan linguistik). Mereka memiliki keunikan masing-masing. Dalam SMA Training orang tua diajarkan menerapkan konsep-konsep NLP sehingga kecerdasan yang mungkin belum dominan atau bahkan termarginalkan bisa di angkat ke permukaan. Artinya setelah pikiran bawah sadar anak lebih dominan dibanding pikiran sadarnya, orang tua diajarkan bagaimana memodel anak untuk menjadikan kecerdasan yang termarjinalkan bisa terangkat. Dan ini berarti pula bahwa apabila setelah pelatihan anak tidak bisa membaca dengan mata tertutup, bukan berarti anak itu tidak berbakat/bodoh, tetapi kecerdasan spasialnya yang perlu dimodel untuk bisa terangkat. Tapi SMA Training justru menjadikan ketidakberhasilan anak dalam permainan tutup mata ini, yang ditandai dengan cara mencoba memanfaatkan cela di samping hidung (mengintip), menjadi bahan bagi orang tua untuk memprogram ulang pikiran anak yang telah berbuat tidak jujur dengan cara mengintip. Di sini ditekankan betapa orang tua harus bersyukur karena mengetahui sifat tidak jujur pada diri anak sejak dini. Sehingga merekalah yang harus bertanggung jawab untuk meluruskannya dengan melakukan reprogramming pikiran dengan teknologi NLP.
Ketiga, beberapa orang tua menyatakan bahwa dalam waktu 6 bulan setelah anaknya diaktivasi, karakternya banyak berubah menjadi negatif. Tapi setelah mengikuti SMA Training tidaklah begitu. Dengan teknologi NLP yang dipraktekkan secara istiqomah, orang tua bisa melihat perkembangan akhlaq yang luar biasa. Karena orang tualah yang mengetahui sisi baik dan buruknya seorang anak. Merekalah yang harus mampu memodel anak dengan bekal ilmu terapi dan repropramming pikiran anak yang telah diperolehnya selama mengikuti training.

Dominannya pikiran bawah sadar apabila diproses dengan teknologi NLP memungkinkan anak menjadi unggul
Setiap anak yang sudah diaktivasi akan mengalami masa “critical vector” selama kurang lebih 3 bulan. Pada kondisi demikian, critical vector sangat mudah menangkap segala hal yang masuk ke dalam lingkungannya. Ia sangat sensitif, sehingga mampu menerima informasi secara cepat. Namun orang tua akan merasa selalu aman, karena selama aktivasi pikiran bawah sadar anak-anak diberikan filter manusia unggul dan ketauhidan.
Perlu diperhatikan, bahwa pelatihan SMA bukanlah pelatihan untuk mengaktifkan otak tengah melainkan pelatihan yang diorientasikan untuk mensinkronkan otak kanan dan otak kiri, sehingga dengan sinkronisasi tersebut, pikiran bawah sadar bisa lebih dominan dalam kehidupan anak, dengan demikian keadaan ini sangat memungkinkan mereka memasuki kondisi acceleted learning yang sangat kondusif untuk memasukkan sugesti (program) dan ini bisa menunjang kecerdasan dan kecepatan anak dalam belajar, terutama di sekolahnya, dan juga dalam lingkungan keluarganya. iw ’11
SMA Training yang hadir di Tanjung Kodok Lamongan Jatim tanggal 5-6 Maret 2011, dengan penambahan materi baru yang salah satunya adalah Memory Sytem yang diorientasikan untuk menghafalkan dengan cepat, menjadikan training ini makin eksis. Apalagi setelah konsep Subconscious Mind (Pikiran Bawah sadar) sebagai bagian yang tak terpisahkan dari program accelerated learning bisa tersampaikan dengan jelas. Semua ini tidak terlepas dari kerja EO Lamongan yang begitu antusias memperkenalkan salah satu konsep pendidikan Abad 21.
“Saya merasa sangat berani untuk menjadi EO SMA Training ini setelah mengikuti kuliah S2 beberapa waktu yang lalu. Secara kebetulan, dua orang professor menyinggung konsep pikiran bawah sadar yang seharusnya sudah diaplikasikan di dalam dunia pendidikan di Indonesia. Mereka mengatakan bahwa kalau Indonesia tidak segera menerapkan pentingnya peranan pikiran bawah sadar untuk segera dimasukkan dalam kurikulum pendidikannya, sungguh Indonesia akan tertinggal lebih jauh lagi. Untuk kuliah berikutnya saya sudah memberanikan diri menyebarkan brosur SMA kepada teman-teman S2 saya. Ternyata tanggapan mereka luarbiasa. Dari situ saya makin menggebu-gebu untuk menjadi EO training SMA ini”, Tutur Badri, M.Pd.selaku ketua EO sewaktu memberikan sambutan pada pembukaan SMA Training.
Antusias orang tua begitu terasa sewaktu sesi SMA Parenting. Hal ini dibuktikan dari permintaan orang tua pada hari ke-dua untuk diberi perpanjangan waktu dari yang seharusnyapukul17.00 menjadi 18.00 WIB. Pembahasan reprogramming hari itu sungguh membuat orang tua peserta penasaran. Bahkan ada orang tua peserta yang menyarankan untuk diadakan pelatihan khusus SMA Parenting, walaupun harus membayar mahal. Yang lebih menarik adalah sesi bagaimana orang tua harus menjadi seorang terapis. EFT selalu mendapat perhatian lebih dalam sesi SMA Parenting disamping materi terapi lainnya seperti TAT dan TFT. Kyai Juhri, salah satu dari orang tua peserta menyatakan bisa merasakan langsung manfaatnya. Beliau begitu senang karena telah merasa terlepas dari rasa sakit yang selalu membuatnya tidak nyaman berjalan. “Alhamdulillah, setelah putaran pertama terapi EFT, rasa sakit saya berkurang dari skala 8 menjadi skala 2. Dan setelah putaran kedua, Alhamdulillah… sungguh saya tidak menyangkanya, rasa sakit pada betis saya yang sudah saya alami selama 10 tahun karena kecelakaan mobil, betul betul sembuh!”
Kehadiran SMA Training di Lamongan untuk yang pertama kali ini pun menyedot perhatian banyak kalangan. Mulai dari para praktisi pendidikan, para Kyai, hingga masyarakat luas. Semoga SMA dapat lebih memberikan kontribusi besar untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. iw’11






