Sorak keramaian 60 peserta mengisi ruangan Training SMA di Hotel Empire Palace Surabaya 26-27 Maret 2001. Para peserta sangat antusias dengan materi-materi training yang berfariasi walaupun mereka harus mengikutinya dua hari mulai pukul 08.00 hingga 17.30-an. Mereka mengikuti permainan-permainan seru, seperti mengglindingkan bola di atas kertas, estafet karet melalui sedotan minuman, dan lainnya. Wajah-wajah mereka nampak ceria dihiasi senyum indah. Apa lagi setelah proses aktifasi senyum dan EFT, mereka tampak jauh lebih gembira. Aktifasi senyum dalam SMA Training diorientasikan untuk menjadikan peserta bisa menguatkan dan bahkan merecovery mental anak yang sempat menurun sehingga mereka mampu mengendalikan keadaan emosi sewaktu menghadapi berbagai masalah, seperti takut gelap, marah, sedih, jengkel, dan sebagainya yang mereka alami dalam pergaulan kesehariannya, baik dalam lingkungan pertemanan, keluarga, maupun di sekolah. Pada masa-masa klimaks aktifasi senyum yang diiringi dengan brainwave untuk longterm memory dan recovery mental, anchoring ditanamkan pada diri anak bersam-sama orang tua. Anchoring ini dimaksudkan untuk bisa mengembalikan pikiran anak dan orang tua pada kondisi emosi bahagia dan siap mental yang ditanamkan saat aktifasi. Anchoring dalam hal ini bisa menjadi cara terbaik untuk mengatasi menurunnya mental anak.
Dalam SMA Training ini, EFT, yang dijadikan salah satu model terapi, banyak berperan besar untuk menghilangkan masalah-masalah psikologis dan fisik yang disebabkan oleh emosi dan self image negatif anak. Jika emosi dan self-image negatif ini dibiarkan terus menerus mengendap dalam pikiran bawah sadar anak akan menimbulkan hambatan psikologis, yang tentu saja akan menimbulkan hambatan pada kecerdasan anak. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan menguasai keterampilan menerapi dengan EFT ini. Anak dan orang tua akan mampu mengatasi berbagai masalah mental dan penyakit fisik. Untuk masalah fobia contohnya, insya Allah orang tua akan dengan mudah mengatasinya. Anak yang mengalami phobia kegelapan yang biasanya disebabkan oleh image hantu yang mereka dapatkan dari tayangan TV, atau dari mendengar obrolan-obrolan orang-orang di sekitarnya, dalam waktu singkat bisa diatasi. Anak yang sejak kecil tidak mau makan nasi juga demikian. Atau contoh yang paling banyak terjadi, yaitu malas. Kemalasan-kemalasan muncul karena image yang ditanamkan oleh lingkungan sekitar, terutama orang tua dan guru-guru yang tanpa sadar telah menanamkan image malas ke dalam diri anak. Mengingat mekanisme kerja pikiran manusia berdasarkan image, semua input yang masuk ditangkapnya berdasarkan image yang dominan. Ungkapan “Jangan malas, ya Nak!” seringkali dimaksudkan untuk menasehati anak supaya rajin, tapi yang ditangkap oleh pikiran anak justru image malas. Makin sering ungkapan tersebut dilontarkan, makin kuat pula image malas tertanam ke dalam pikiran bawah sadar anak, Ini berarti bahwa tanpa sadar orang tua telah mengendapkan perasaan malas pada diri anak,. Dan yang terjadi adalah anak benar-benar menjadi pemalas. Dengan EFT hal seperti ini pun bisa di atasi. Bahkan EFT bisa digunakan untuk menerapi penyakit fisik yang akut.
Negative Self Image yang terbentuk oleh anak sejak awal perkembangannya bisa menjadi kendala perkembangan anak. Selain aktifasi senyum dan EFT, sebenarnya banyak hal yang sebenarnya mampu me-recovery mental anak. Di sini sangat dibutuhkan perananan orang tua yang lebih intens sehingga orang tua mampu menjadi pengarah, bahkan menjadi trapist bagi anak.
