LAMONGAN-Segala informasi yang datang dari lingkungan sekitar anak, baik melalui media komunikasi, seperti TV,majalah, dan internet setiap hari akan mengisi pikiran anak, yang sebagian besar hanyal informasi negatif. Bagaiamana jika setiap hari informasi negatif ini saja yang terus masuk ke dalam diri anak? Menurut penelitian, bahwa input informasi yang diterima anak seperti ini dalam satu hari bisa mencapai 80 % (Bobby De Porter). Inilah yang terjadi, kenapa dengan pesatnya teknologi informasi justru banyak anak yang malah bermasalah.
Di sisi lain maraknya fenomena pelatihan aktifasi otak (otak tengah), yang ternyata tanpa disadari juga diorientasikan untuk mendominankan pikiran bawah sadar dan tanpa memberikan filter-filter positif atas sepengetahuan orang tuan sangat berakibat buruk terhadap tumbuh kembang anak dalam pesatnya perkembangan teknologi informasi seperti saat ini. Hal ini terkait dengan sifat pikiran bawah sadar yang selalu searah dengan awal aktifasinya. Artinya, jika aktifasi pikiran tersebut berisikan filter-filter positif maka pikiran bawah sadar akan mampu mengendapkan informasi positif dan menolak segala informasi negatif begitu juga sebaliknya. Apalagi jika diaktifkan tanpa filter sama sekali ini lebih membahayakan. Karena anak dalam masa kritikal factor seperti ini akan memilih nilai-nilai yang mereka sendiri anggap benar. Atau seandainya pun ada pemberian filter, orang tua tidak tahu filter seperti apa yang ditanamkan. Pemberian filter seperti ini juga sangat tidak menguntungkan. Kalau ternyata nilai yang dipilih anak untuk dijadikan filter justru yang negatif malah akan membuat pikiran bawah sadar akan menolak atau menganggap tidak benar semua informasi positif yang masuk. Bukankah sangat ironis kalau ternyata aktifasi otak yang kita harapkan justru berlawanan arah?
CLF sebagai forum kajian model pembelajaran abad 21 yang sangat peduli akan kemajuan pendidikan di Indonesia, berusaha keras untuk menjadikan SMA Training sebagai model pelatihan alternatif yang mampu memberikan bekal pada orang tua di dalam menggiring dan memodel anaknya menjadi seperti yang mereka harapkan dengan filter ketauhidan dan manusia unggul. Selama aktifasi kegigihan Nabi Ibrahim mempertahankan ketauhidan serta kesempurnaan Rasulullah Muhammad SAW. sebagai pemimpin, dalam hal ini khalifah Allah, diorientasikan untuk menjadikan anak sebagai insan kamil (manusia unggul) baik secara spiritual, emosional dan intelektual. (dikutip dari pengantar SMA Parenting oleh Ahmad Amin M. Pd. sebagai trainer inti) Iw’11

